Rabu, Maret 21, 2012

MEMBUAT SWR SENDIRI

In telecommunications, standing wave ratio (SWR) is the ratio of the amplitude of a partial standing wave at an antinode (maximum) to the amplitude at an adjacent node (minimum), in an electrical transmission line.
The SWR is usually defined as a voltage ratio called the VSWR, for voltage standing wave ratio. For example, the VSWR value 1.2:1 denotes a maximum standing wave amplitude that is 1.2 times greater than the minimum standing wave value. It is also possible to define the SWR in terms of current, resulting in the ISWR, which has the same numerical value. The power standing wave ratio (PSWR) is defined as the square of the VSWR.

Practical implications of SWR

The most common case for measuring and examining SWR is when installing and tuning transmitting antennas. When a transmitter is connected to an antenna by a feed line, the impedance of the antenna and feed line must match exactly for maximum energy transfer from the feed line to the antenna to be possible. The impedance of the antenna varies based on many factors including: the antenna's natural resonance at the frequency being transmitted, the antenna's height above the ground, and the size of the conductors used to construct the antenna.
When an antenna and feedline do not have matching impedances, some of the electrical energy cannot be transferred from the feedline to the antenna. Energy not transferred to the antenna is reflected back towards the transmitter. It is the interaction of these reflected waves with forward waves which causes standing wave patterns. Reflected power has three main implications in radio transmitters: Radio Frequency (RF) energy losses increase, distortion on transmitter due to reflected power from load and damage to the transmitter can occur

Matching the impedance of the antenna to the impedance of the feed line is typically done using an antenna tuner. The tuner can be installed between the transmitter and the feed line, or between the feed line and the antenna. Both installation methods will allow the transmitter to operate at a low SWR, however if the tuner is installed at the transmitter, the feed line between the tuner and the antenna will still operate with a high SWR, causing additional RF energy to be lost through the feedline.
Many amateur radio operators consider any impedance mismatch a serious matter. However, this is not the case. Assuming the mismatch is within the operating limits of the transmitter, the radio operator needs only be concerned with the power loss in the transmission line. Power loss will increase as the SWR increases, however the increases are often less than many radio amateurs might assume. For example, a dipole antenna tuned to operate at 3.75MHz—the center of the 80 meter amateur radio band—will exhibit an SWR of about 6:1 at the edges of the band. However, if the antenna is fed with 250 feet of RG-8A coax, the loss due to standing waves is only 2.2dB. Feed line loss typically increases with frequency, so VHF and above antennas must be matched closely to the feedline. The same 6:1 mismatch to 250 feet of RG-8A coax would incur 10.8dB of loss at 146MHz.
Untuk setting dan hasil maksimal pemancar maka lebih afdol jika ada SWR untuk mencocokan impedans agar transfer daya maksimal ke output pemancar (Antena). Jika tidak punya SWR, berikut ini cara membuat SWR sendiri dengan hasil lumayan. Hasil membongkar SWR teman (buatan pabrik). (red Makasih buat Prapta Suharyana waktu dulu aku pinjam SWR-nya dan ta contoh rangkaian dalemnya, maaf ya!)

Rangkaian Asli sbb:


 Gambar Rakitan step per step:
     
 
Penalaan memakai VU yang ditulis skala sesuai SWR aslinya (kira-kira)
Bentuk sudah contoh pemakaian, untuk beban antena diganti dengan dummy load 50 Ohm













sumber artikel : http://guru.technosains.com/SWR.htm

Cara Praktis dan Mudah Membuat PCB

Cara Praktis dan Mudah Membuat PCB. Beberapa waktu yang lalu ada seorang rekan yang menanyakan tentang bagaimana cara membuat PCB secara mudah dan praktis. Pertanyaan tersebut mungkin berawal saat  rekan tersebut melihat PCB ukuran sekitar 15-cm x 22-cm untuk 80/40-m SSB Transceiver, suatu rangkaian yang cukup kompleks yang saya buat saat itu.
Dari pertanyaan tersebut sehingga saya tulislah artikel ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat juga bagi yang lain khususnya pengunjung blog ini. Menurut sepengetahuan saya ada beberapa cara membuat PCB secara mudah dan praktis yaitu :
  1. Teknik Fotoresist, pada proses ini dibutuhkan beberapa alat dan bahan  yaitu : Lampu UV, Larutan Positif-20 dan larutan NaOH
  2. Teknik Sablon, pada proses ini dibutuhkan bahan-bahan yang sama seperti pada teknik sablon biasa seperti kasa-screen, tiner sablon, cat dan lain-lain. Tekniknyapun hampir sama dengan sablon biasa
  3. Cetak Langsung ke PCB, pada proses ini digunakan teknik khusus untuk menyalin layout ke PCB yaitu digunakan mesin printer khusus yang telah dimodifikasi
  4. Teknik Transfer Paper, teknik ini merupakan Cara Praktis Membuat PCB yang menurut saya paling murah dan mudah
Dari ke-empat Cara Membuat PCB tersebut kita bisa memilih sesuai kebutuhan, mana yang lebih mudah, praktis dan ekonomis. Menurut saya pribadi, untuk membuat PCB yang sama dalam jumlah banyak lebih menguntungkan kalau digunakan Teknik Sablon karena murah dan cepat. Sedangkan untuk membuat PCB dalam jumlah sedikit saya cenderung menggunakan Teknik Transfer Paper seperti yang biasa saya terapkan.
Namun mungkin ada perbedaan secara mendasar yang saya gunakan dalam Teknik tersebut. Dalam teknik tersebut biasanya digunakan kertas khusus untuk menyalin gambar layout ke PCB, tetapi di sini cara saya membuat PCB menggunakan kertas HVS biasa yang digunakan untuk Photo-Copy. Berikut caranya :
  • Siapkan gambar jalur PCB yang Anda rencanakan. Utk membuatnya bisa gunakan Software PCB Designer 1.54.
  • Cetak layout PCB pada kertas Foto dengan printer tinta biasa supaya fill dari jalur lebih padat
  • Foto-Copy hasil cetakan tadi pada kertas HVS 70-gram. Usahakan hasil Foto-Copy bagus (tintanya padat). Ditempat saya yang seperti itu per-lembarnya Rp.125,- dengan mesin Xerox
  • Siapkan PCB polos, bersihkan lapisan tembaga dengan Tiner A sambil digosok-gosok dengan Busa Karpet yang biasa digunakan buat cuci piring dan keringkan
  • Siapkan seterika listrik, atur pada suhu sedang
  • Cara selanjutnya untuk membuat PCB, tempelkan gambar jalur hasil Foto-Copy pada PCB dengan posisi gambar menempel pada lapisan tembaga
  • Lakukan proses seterika dengan merata sambil menekan, lakukan sekitar 10 menit
  • Caranya kemudian diamkan PCB sampai dingin dan rendam dalam air kira-kira 30 menit. Proses ini paling lama dalam membuat PCB karena kita harus memastikan bahwa kertas benar-benar hancur/lunak dan mudah dikupas
  • Kupas kertas dengan hati-hati dan keringkan PCB
  • PCB siap dilarutkan
Hasil Foto Copy :

Setelah diseterika, direndam dan dikupas (siap dilarutkan) :
Setelah Pelarutan :

Cara di atas menurut saya merupakan yang mudah dan praktis dalam membuat PCB. Setelah dilarutkan dengan FeCL3 segera bersihkan lapisan tinta dengan Tiner A dan cuci dengan air serta gosok dengan sabun. Selanjutnya oleskan larutan pelindung Arpus. Cara pembuatannya, ambil 1 sendok makan Serbuk Arpus (Gondorukem) kemudian larutkan dengan 150-ml Tiner A.


Aduk hingga Arpus benar-benar larut kemudian oleskan tipis larutan tersebut pada lapisan tembaga PCB dan biarkan hingga betul-betul kering. Cara tersebut akan membuat PCB awet dan terlindung dari korosi. Begitulah Cara Mudah dan Praktis Membuat PCB yang sering saya terapkan untuk berbagai jenis rangkaian elektronik baik itu analog maupun digital mulai frekuensi rendah sampai frekuensi tinggi  HF/VHF.

Senin, Maret 19, 2012

boster 600Watt (2x BLF278)



boster 600Watt (2x BLF278) ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi anda pakar pakar rf dibelantara dunia, tapi kali ini aku mencoba postingin boster 600 watt hanya untuk sekedar melengkapi koleksi skema di blog saya ini. mungkin saja ada rekan-rekan penghobi rf yang membutuhkan. dengan harapan semoga bermanfaat
 Klik disini untuk download skema